Tags

, , ,

Salah satu kesulitan kaum Muslim tinggal di negeri non-muslim adalah masalah makanan.

Harus benar-benar memilih-milih makanan agar tidak ada hal yang haram masuk ke tubuh kita. Sebelum berangkat banyak-banyak cari info mengenai hal ini.

 

Sebelumnya marilah kita menyimak hukum asal dari makanan.

– “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” [QS. Al-Baqarah: 29]

Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu, termasuk makanan, yang ada di bumi adalah nikmat dari Allah, maka ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah halal dan boleh, karena Allah tidaklah memberikan nikmat kecuali yang halal dan baik.

– “Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya”. [QS. Al-An’am: 119]

Maka semua makanan yang tidak ada pengharamannya dalam syari’at berarti adalah halal. [Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah (21/535)].

Terpaksa memakannya dalam hal ini adalah apabila tidak makan makanan tersebut maka akan terancam jiwanya. Apabila hanya karena tidak terpenuhinya salah satu zat gizi, maka ini bukan berarti suatu keterpaksaan. Misalkan: tidak ada sumber protein lain kecuali daging (babi), maka tetap memakannya. Itu bukanlah suatu keterpaksaan.

 

Sehingga:

– Asal dari semua makanan adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang menyatakan haramnya.

– Asal makanan kaum muslimin adalah halal, tanpa perlu kita pertanyakan lagi kehalalannya, kecuali jelas bagi kita adanya zat yang haram.

– Indonesia adalah negara Islam dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sekitar 86% penduduk Indonesia adalah muslim, maka hukum asal makanan di Indonesia adalah halal.

 

Nah, sekarang bagaimana dengan makanan yang bukan berasal dari kaum muslim?

 

“Janganlah kamu memakan hewan yang disembelih tidak menyebutkan nama Allah atasnya”. [Al-An’am : 121]

 

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikan Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka ….” [Al-Ma’idah : 5] (Makanan mereka, artinya sembelihan mereka, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas dan yang lainnya).

 

Hewan potong yang datang dari negara asing (makanan impor) atau di negara asing, dan orang yang melakukan penyembelihannya adalah orang yang tidak halal sembelihannya, seperti orang-orang majusi dan penyembah berhala serta orang-orang yang tidak menganut ajaran agama (atheis), maka sembelihan itu tidak boleh dimakan, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membolehkan sembelihan selain kaum Muslimin, kecuali orang-orang ahlu kitab, yaitu yahudi dan nashrani.

 

Para fuqaha (ahli fiqih) berkata : “Apabila anda menemukan sesembelihan dibuang di suatu tempat yang sembelihan mayoritas penduduknya halal, maka sembelihan itu halal”, hanya saja dalam kondisi seperti ini kita harus menghindari dan mencari makanan yang tidak ada keraguannya. Sebagai contoh: Kalau ada daging yang berasal dari orang-orang yang halal sembelihannya, lalu sebagian mereka ada yang menyembelih secara syar’i dan pemotongan benar-benar dilakukan dengan benda tajam, bukan dengan kuku atau gigi ; dan sebagian lagi ada yang menyembelih secara tidak syar’i, maka tidak apa memakan sembelihan yang berasal dari tempat itu bersandarkan kepada mayoritas, akan tetapi sebaiknya menghindarinya karena sikap hati-hati. [Ibnu Utsaimin, Majalah Al-Muslimun, edisi 2] [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerbit Darul Haq]

 

Sehingga jelaslah, tidak boleh memakan sembelihan (segala macam hewan yang bisa disembelih) orang-orang non-muslim (Majusi, Paganis, Komunis atau yang lain) selain sembelihan Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani, dan juga makanan yang bercampur dengan sembelihan mereka, kuah dan sejenisnya. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala tidak memperbolehkannya.

 

Buah-buahan dan sejenisnya tidak termasuk kategori makanan yang diharamkan, karena buah tidak perlu disembelih. Begitu pula dengan ikan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Telah dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut, (ialah) ikan dan belalang. Sedangkan dua darah itu, (ialah) hati dan limpa.[ HR Ibnu Majah, no. 3218, 3314; As Sunan Al Kubra (9/257)]

 

Makanan kaum muslimin juga halal bagi sesama muslim atau bagi non-muslim, karena mereka betul-betul muslim, dalam arti tidak beribadah kepada selain Allah, tidak beribadah kepada (para) Nabi, (para) wali, para penghuni kubur dan yang lainnya.

Jadi muslim tidak makan kecuali sembelihan orang yang kita percaya menyembelih secara syar’i, orang Muslim, atau ahli kitab. Walahu a’lam.

 

Yang berikutnya adalah mengenai tempat makanan. Karena apabila kita tinggal bersama satu asrama dengan non-muslim maka hal ini harus juga diperhatikan. Sebaiknya kaum muslim mempunyai tempat makanan tersendiri, tidak dipakai bersama orang-orang non-muslim, karena mereka menggunakannya untuk makanan mereka, untuk makanan haram, minuman keras dan sejenisnya. Kalau tidak ada, orang muslim harus mencuci tempat-tempat makanan tersebut, baru kemudian digunakan untuk tempat makanan kaum muslimin. Hal ini berdasarkan riwayat shahih dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hukum makan dengan menggunakan tempat makanan kaum musyrikin. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan kalian gunakan untuk makan, kecuali bila tidak ada yang lain, cucilah terlebih dahulu, baru gunakan untuk tempat makanan kalian”

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit Pustaka At-Tibyan]

 

Sehingga apabila muslim tinggal di negeri yang mayoritas bukan Ahli Kitab maka berhati-hatilah. Semua makanan yang berasal atau mengandung daging, bisa jadi tidak halal. Ayam, sapi, apalagi babi, bisa jadi haram, kita tidak tahu pasti siapa dan bagaimana cara menyembelihnya.

Bila ingin aman, maka makanlah makanan yang berasal dari beras, kentang, tepung, roti tawar. Lauk bisa berasal dari telur, ikan. Kemudian sayur dan buah-buahan. Untuk minuman minumlah air putih, juice buah, susu, teh, kopi. Hindari minuman yang tidak jelas mengandung alkohol atau tidak, minuman beralkohol jelas harus dihindari. Untuk roti/cakes/biskuit hati-hati mengenai campurannya, bisa jadi mengandung minyak babi. Juga untuk makanan olahan yang lain.

 

Untuk makanan jadi, harus cek apakah makanan tersebut mengandung bahan yang haram, perhatikan komposisi makanan yang terletak pada bungkus makanan tersebut. Untuk bahasa bisa searching di internet atau dengan bantuan Google/Yahoo Translate.

 

Sebagai contoh di negara Jepang, jenis makanan mie juga harus hati-hati. Mie ramen dan champon merupakan contoh mie yang umumnya mempunyai kandungan babi. Sehingga harus pandai-pandai “menghafalkan” bentuk huruf Jepang yang artinya babi dan lainnya.

 

Selanjutnya silakan baca:

http://almanhaj.or.id/content/1884/slash/0/kesulitan-mendapatkan-daging-halal-dan-bejana-suci/

http://almanhaj.or.id/content/1192/slash/0/penyembelihan-yang-sesuai-syariat/

http://asysyariah.com/hukum-daging-yang-dijual-di-pasar.html

http://almanhaj.or.id/content/1516/slash/0/tidak-sepantasnya-menanyakan-teknis-penyembelihan-hewan-ternak-dan-ayam/

http://almanhaj.or.id/content/2062/slash/0/makanan-haram/

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/halalkah-daging-di-negara-non-muslim.htm#.UIa02m-5Z6g

http://pmij.us/islam-di-jepang/halal-haram/bahan-yang-perlu-diperhatikan.html

http://ppijepang.org/index.php?option=com_content&view=article&id=154%3Amakanan-halal-haram-&catid=51%3Akehidupan-di-jepang&Itemid=99&lang=in

http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/06/27/tips-memilih-makanan-halal-di-jepang/